web creation software

Malaysia, Singapura, dan Mimpi Andalusia

Hidayah, Islam, Media, Majalah, Agama, Cerita Islam, Kisah Islam, Al - Quran, Hadist

andalusia

Ketika mengunjungi kampus University Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun lalu (2009), saya menemukan buku berjudul ”Andalus di UKM”. Buku ini buah karya Dr Salmah Omar, lulusan Universiti Malaya.

Saya baru membuka dan membaca serius buku ini minggu lalu. Ternyata buku ini sangat menarik dan merupakan karya disertasi Salmah. Banyak hal yang menarik diungkap dalam disertasi ini. Dr Salmah menceritakan bahwa Islam berperan penting membentuk peradaban Eropa, pada tahun 711M hingga 1492M.

“Kehadiran Islam di Andalus bukan sahaja menghapuskan penindasan dan kekejaman pemerintah-pemerintah Kristen sebelumnya, tetapi juga berjaya membentuk sebuah tamadun Islam yang unggul serta masyarakat intelek yang menjadi model kepada seluruh masyarakat di Eropa,” demikian tulis Salmah.

Pada zaman kegemilangannya, ungkapnya, Andalus telah muncul sebagai pusat intelektual Islam yang terpenting. Ia dikatakan mempunyai banyak institusi pendidikan, perpustakaan, istana, masjid, tempat mandi umum dan taman, serta kebun yang indah.

Menurut Al Maqdisi, pada abad ke-10M, kota Cordova yang menjadi pusat pemerintahan Islam telah muncul sebagai bandar termaju di dunia serta pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, karena mempunyai 37 buah perpustakaan, 150 buah rumah sakit, 300 sekolah umum, 900 tempat mandi umum dan 1600 sehingga 3837 buah masjid di sekitarnya. Ia menjadi saingan kota kebudayaan lain seperti Qayrawan, Damsyik, dan Baghdad.

Andalus, sebagaimana dikutip Salmah, juga mencapai satu tahap yang tinggi dalam penggunaan bahasa Arab, seperti yang dapat dilihat melalui hasil kesusastraan yang hebat dalam puisi, nahu, leksikografi, persuratan, sejarah dan geografi, agama, falsafah, dan sains tulen. Tingkat kemahiran dan daya kreatif yang tinggi dapat pula diperhatikan melalui hasil seni dan seni binanya, dalam bidang musik, pertanian, perdagangan dan industri. Justru, pada zaman kegemilangannya, Andalus begitu dikagumi oleh seluruh masyarakat dunia.

Bandar Toledo di Andalus telah muncul sebagai pusat kegiatan penterjemahan. Para sarjana Barat telah berusaha keras menterjemah hasil-hasil karya sarjana Islam. Selain itu, tulisan-tulisan Aristotle, Euclid, Ptolemy, Galen, Hippocrates, dan lain-lain yang telah diterjemah dan dikupas oleh sarjana Islam Andalus ke dalam bahasa Arab, kini diterjemahkan pula ke bahasa Latin dan bahasa Eropa yang lain oleh sarjana Yahudi dan Kristen yang pernah menjadi murid dari sarjana-sarjana Islam.

Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Guru Besar ATMA-UKM Malaysia, membuat tulisan yang menarik dalam jurnal Islamia, dengan judul: Iklim ”Kehidupan Intelektual di Andalusia.”

Prof Wan Daud menyatakan: “Kehadiran Islam di Andalusia telah melahirkan pencapaian ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban yang amat tinggi. Bukan saja dalam sejarah Islam tapi juga dalam sejarah manusia. Kekayaan, harta benda dan uang, serta kekuatan politik tidak bergantung kepada ketinggian ilmu pengetahuan seperti yang telah banyak dilihat dalam lembaran sejarah dan juga di sekeliling kita hari ini. Tetapi ketinggian kebudayaan –dalam arti keluhuran hasil amal perbuatan serta tatasusila kemanusiaan yang penuh dengan kebijaksanaan, kesederhanaan dan keadilan, pelbagai bentuk dan ragam hasil kesenian yang memancarkan ciri-ciri kerohanian dan kemanusiaan – dan keunggulan peradaban, semuanya bergantung kepada budaya ilmu dan iklim keilmuan sehat, dinamik, dan berdaya cipta.”

Prof Wan mencatat bahwa khalifah Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz (memerintah 717-720M) melantik Ismail bin Abdullah bin Abil Muhajir sebagai Gubernur di Andalusia dan Afrika Utara. Umar yang mengambil inisiatif menggalakkan pengumpulan hadits dan penyebaran ilmu pengetahuan agama, telah menghantar beberapa surat kepada gubernurnya untuk mendidik masyarakat.

Mantan Guru Besar ISTC-IIUM ini melanjutkan: “Pandangan alam yang menyuburkan sikap mendalami ilmu pengetahuan juga terkandung dalam Muwatta’ Imam Malik, teks penting yang mempengaruhi umat Islam Afrika Utara dan Andalusia. Imam Malik meriwayatkan, beliau mendengar bahwa Luqman al Hakim menasihati anaknya: ”Wahai Anakku! Bergaullah dengan orang-orang alim dan duduklah dengan hormat bersama mereka karena Allah SWT menghidupkan jiwa dengan cahaya hikmah-Nya, seperti Dia menghidupkan tanah gersang dengan hujan dari langit… Cendekiawan Andalusia juga menulis karya-karya penting tentang ilmu pengetahuan. Ibnu Hazm (w. 1064M) mengarang kitab Maratib al Ulum yang mengajarkan kepentingan pelbagai ilmu pengetahuan, manakala Ibn Abdul Barr (w. 1070M) menulis kitab terkenal –Jami Bayan al Ilm wa Fadhlihi wa ma Yanbaghi fi Riwayati wa Hamlihi– yang mengandung banyak hadits yang menyanjung ilmu pengetahuan dan usaha mencapai dan menyebarnya.”

Andalus di Singapura

Akhir Oktober 2009 lalu, dari Kajang-Bangi, Malaysia saya berkesempatan mengunjungi Singapura. Saya naik kereta api dari stasiun Kajang ke Singapura pulang balik hanya 64 ringgit saja (sekitar Rp 190.000). Tujuan ke Singapura sebenarnya selain untuk silaturahmi dengan seorang kawan, juga yang lebih penting untuk memperpanjang visa saya di Malaysia.

Sekitar 8 jam, saya sampai di stasiun Singapura. Ini sebenarnya perjalanan saya yang kedua ke Singapura dengan kereta api. Tahun 1995 dulu, saya pernah mencoba naik kereta dari ‘kota Singa’ itu ke Kuala Lumpur. Berbeda dengan tahun 1995, saya menemukan kejadian aneh tahun lalu. Ketika menuju pintu keluar stasiun, petugas imigrasi menanyakan identitas saya. Ia melihat dulu visa saya berwarganegara Indonesia. Kemudian ia bertanya: “Anda muslim?”, “Ya”, jawab saya. Kemudian ia memencet sebuah tombol di sampingnya dan datanglah petugas lain mengajak saya agak menjauh dari gerbang pemeriksaan visa itu. Di situ saya dicecar untuk apa ke Singapura? Siapa yang dituju? Berapa lama? Dan lain-lain. Visa saya dibawanya ke sebuah ruangan dan tampak dari kaca ruangan itu ‘mesin fotokopi’. Setelah ia menyerahkan visa, saya disuruh kembali ke petugas yang pertama untuk di stempel sebagai tanda pengesahan.

Saya cukup jengkel dengan perlakuan petugas imigrasi Singapura ini. Pertanyaan ’Anda muslim’, membuat saya benar-benar dongkol. Karena saya saksikan beberapa ‘turis lain’, kebanyakan wajah China –baik dari Singapura maupun Malaysia– lancar saja dan tidak mengalami perlakuan seperti saya.

Sambil berjalan saya berfikir mungkin mereka takut kepada muslim Indonesia, karena banyak kejadian bom di Indonesia. Barangkali mereka merasa nyaman bila yang datang dari Indonesia non-muslim, bukan muslim.

Seorang kawan dari Padang, juga menceritakan kejadian yang mirip dengan saya, di waktu yang lain. Tapi saya tidak tahu secara pasti, karena mereka tidak mengungkapkan alasan penerapan diskriminasi pemeriksaan visa itu.

Di stasiun Singapura, saya dijemput seorang yang bernama Abdullah Ustman. Penjemput ini belum saya kenal sebelumnya. Saya diperkenalkan sebelumnya oleh sahabat dan guru saya, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud via email.

Abdullah, kini sedang menempuh program doktor di Universiti Malaya, setelah menamatkan S2-nya di ISTAC Malaysia. Ketika menempuh program Master dulu, ia berkisah bahwa tiap minggu ia mesti pulang balik naik bis Singapura-Kuala Kumpur. Laki-laki tinggi dan gemuk ini sehari-harinya senang memakai kopiah. Pembawaannya ramah dan mudah akrab dengan orang lain, termasuk saya yang baru dikenalnya.

Ia, kini salah seorang pimpinan “Sekolah Islam Andalusia (dan Cordova)” di Singapura. Istrinya dari Indonesia dan mertuanya sudah lama menetap dan tinggal di Singapura. Saya diinapkan di salah satu rumahnya, sebuah apartemen, ditemani mertua laki-lakinya. Mertuanya ini tidak kalah baik dan ramahnya. Bila pagi, ia menyediakan teh, gorengan, dan nasi uduk. Ia juga senang bercerita panjang tentang perantauannya di negara kecil ini. Ia bercerita bahwa dulu dia tinggal di perkampungan Melayu yang cukup besar di Singapura yang kini telah digusur. Seorang kawan lain di Singapura menceritakan, kini tidak mudah orang Melayu menjadi warganegara Singapura. Tapi bila yang datang keluarga-keluarga dari China, maka mereka mudah mendapatkan kewarganegaraan.

Selama di Singapura, tidak menyangka saya diperlakukan ‘tamu istimewa”. Saya diajak berputar-putar di jalan-jalan Singapura, termasuk melihat pantai dan pinggiran laut yang diuruk menjadi daratan, serta berbagai gedung telah berdiri di sana. Tidak lupa juga ‘dipaksa’ untuk menikmati berbagai makanan di sana. Yang paling berkesan ketika saya mengunjungi Museum Melayu di Singapura. Di museum itu, meskipun tidak begitu luas, saya sangat terkesan. Sejarah Malaka, Singapura, Nusantara, dan kepahlawanan orang-orang Muslim Melayu melawan Portugis, Belanda, dan lain-lain ditampilkan di sana. Dengan tampilan musik, suara dan studio yang menawan, sejarah Melayu ditampilkan seolah-olah ‘hidup’ kembali. Saya tidak menemukan hal itu di tanah air. Entah mengapa. Di lantai atas, kebetulan pas ada pameran foto masjid-masjid di Jerman yang menawan. Saya pun menikmatinya.

Yang tak kalah menariknya saya diajak keliling untuk melihat berbagai sekolah Islam Andalusia dan Cordova. Sekolah Islam ini jumlahnya lebih dari 20 sekolah dan muridnya ribuan. Beberapa sekolah letaknya di lantai bawah gedung apartemen. Sekolah-sekolah ini mulai dari TK sampai diploma. Ia dan kawan-kawannya hanya bisa mendirikan diploma (D3). Untuk universitas hampir mustahil ia mendirikan, karena universitas hanya boleh didirikan oleh negara, sebagaimana kebijakan yang diambil pemerintah Singapura.

Bahasa Melayu (Indonesia), Arab, dan Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar di sana. Abdullah menyatakan kesedihannya melihat bahasa Melayu yang tergusur di Singapura.

“Di sekolah-sekolah negeri menggunakan bahasa Inggris semua,” ungkapnya. Karena itu, ia bersama timnya mengajarkan anak didiknya tiga bahasa itu, mulai dari TK.

***

Saya gemar mengunjungi salah satu toko buku ternama di Jakarta. Saya seringkali merasakan ketentraman di sana. Bukan karena gedungnya ber-AC, tapi yang lebih penting saya bisa menikmati buku apapun di situ dengan gratis.

Buku-buku baru –bahkan buku best seller– buku-buku berbagai hal tinggal kita petik saja dari raknya, kita baca di tempat. Meski kurang nyaman, karena seringkali baca sambil berdiri, tapi paling tidak di situ kita dapat mengobati kehausan akal kita akan berbagai ilmu pengetahuan. Toko-toko buku semacam itu seringkali menggantikan perpustakaan-perpustakaan kampus yang seringkali ketinggalan informasi.

Mengambil inspirasi dari Baghdad dan Andalusia, saya pernah mengusulkan kawan-kawan anggota DPRD Depok dan Tangerang agar mengajukan usulan ke Walikota untuk membuat perpustakaan kota yang nyaman.

Perpustakaannya dengan buku-buku yang ‘lengkap’, arsitek yang bagus, dan ditambah dengan lapangan tempat rekreasi keluarga. Juga dilengkapi dengan mushalla atau masjid di situ. Saya yakin bila hal itu diwujudkan, maka banyak keluarga dan anak-anaknya akan berkunjung ke perpustakaan, daripada mall atau tempat-tempat rekreasi yang ‘tidak berpendidikan’.

Banyak sahabat di Singapura, Malaysia, Indonesia, dan negeri-negeri lain memimpikan terwujudnya kembali khasanah Andalusia, tapi mungkinkah? Dan di mana pula? Tapi yang jelas, bukan suatu kemustahilan. Wallaahu samiiun aliim.

Sumber :

https://www.hidayatullah.com

SHARE THIS PAGE!

FACEBOOK COMMENTS WILL BE SHOWN ONLY WHEN YOUR SITE IS ONLINE