free bootstrap theme

Akar Masalah Pendidikan Tinggi

Barat benar-benar memahami potensi besar kaum muslimin. Tak puas menjajah sumber daya alam dan memiskinkan negeri-negeri muslim, Barat berhasrat mengendalikan sumberdaya manusia potensial di dunia Islam. Antara lain melalui sistem pendidikan yang dirancang untuk memuluskan agenda penjajahan mereka. Melalui lembaga pendidikan internasional, Barat dengan pongah membajak keluhuran tujuan penyelenggaraan pendidikan ke arah neo imperialism, dengan berbagai program yang mengarahkan pendidikan ke arah komersialisasi. Upaya tersebut dipermudah lembaga-lembaga internasional dengan menetapkan syarat pemeringkatan perguruan tinggi, yang mengacu pada agenda penjajahan kapitalisme global.

Pendidikan yang diselenggarakan seyogyanya melahirkan ahli ilmu yang mumpuni, intelektual yang senantiasa merasakan denyut nadi permasalahan umat, dan mampu tampil sebagai problem solver. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Institusi pendidikan tinggi berlomba-lomba masuk dalam trap parameter lembaga pemeringkat internasional, semata untuk mengejar predikat World Class University. Pendidikan tinggi kemudian disibukkan dengan berbagai prasyarat agar menjadi perguruan tinggi terkategori World Class University. Perguruan tinggi dituntut untuk merancang kegiatan riset yang dapat menghasilkan inovasi kualitas dunia, publikasi pada jurnal akademik berstandar internasional berikut alumni yang juga bertaraf internasional.

Dari hal tersebut, tampak bahwa unsur riset merupakan syarat terpenting dalam World Class University. Artinya, tanpa reputasi riset, sebuah perguruan tinggi tidak mungkin masuk peringkat dunia. Riset memang sudah menjadi kewajiban dunia akademik, namun apa jadinya jika riset tersebut justru di arahkan ke dunia bisnis? Konsep triple helix dan knowledge based economy mengindikasikan riset perguruan tinggi ditujukan untuk pertumbuhan ekonomi dan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan industri atau bisnis, bukan untuk kesejahteraan rakyat. Parahnya, lembaga pendidikan internasional bekerja sama dengan jurnal internasional dengan pongah menentukan arah riset sesuai kepentingan Barat.

Kita memahami bahwa ruh pendidikan dan ekonomi (bisnis) sangat berbeda secara diametral. Pendidikan memiliki tujuan pencerdasan manusia minus keuntungan materi, sedangkan bisnis berkutat pada urusan keuntungan (materi). Maka menjadi sesuatu yang aneh ketika penyelenggaraan pendidikan berbasis pada ekonomi. Hebatnya, konsep triple helix dan knowledge based economy tersebut sejalan dengan instrument yang ditetapkan agar sebuah perguruan tinggi memenuhi prasyarat World Class University. Dampak komersialisasi perguruan tinggi ini akhirnya membuat biaya pendidikan semakin mahal. Jikapun ada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk kalangan bawah, itu hanyalah kebijakan setengah hati. Rakyat pada akhirnya tetap dipayungi sederet masalah krusial. Kemiskinan, konflik sosial, kriminalitas, narkoba, pergaulan bebas, dan sederet permasalahan yang seolah membuat gagu kalangan intelektual untuk menjawabnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Semakin modern pendidikan tinggi kita ternyata semakin banyak pula masalah rakyat yang tak terurai.

Kapitalisme, Akar Masalah

Akibat penerapan sistem kapitalis sekuler serta sistem ekonomi liberal, kondisi dunia pendidikan tinggi kian kehilangan arah. Sistem ekonomi liberal mewajibkan privatisasi berbagai aset strategis termasuk pendidikan serta mengharuskan pencabutan subsidi berbagai kebutuhan primer, juga termasuk pendidikan. Akibatnya, biaya pendidikan semakin melangit. Sedikit demi sedikit, negara berlepas tangan dalam pembiayaan pendidikan melalui berbagai instrumen kebijakan yang pro korporasi. BHP-BHMN, penetapan sistem UKT hingga PTN-BHP sebagai sarat sebuah perguruan tinggi disebut memenuhi standar World Class University adalah bukti nyata. Penyelenggaraan pendidikan tak lagi untuk rakyat sebagaimana yang tertuang dalam perundang-undangan, melainkan hanya dinikmati sekelompok orang saja. Pengabdian masyarakat yang dilakukan kalangan intelektual sebagai wujud pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, berikut penelitian yang dilakukan pun seolah kehilangan ruh keilmuan. Pengabdian dan penelitian hanya dilakukan semata untuk mengejar koin akibat biaya hidup yang kian melangit, berikut kredit poin dalam rangka sertifikasi.

Sayangnya, kurikulum sekuler yang memang dirancang memandulkan daya kritis intelektual muslim, telah berhasil membutakan mereka mengenai akar masalah yang sebenarnya. Tak hanya apatis dan putus asa terhadap konsep pendidikan Islam, intelektual muslim bahkan telah benar-benar silau dengan konsep pendidikan ala Barat. Mereka lupa, atau bahkan sengaja dibuat lupa akan peradaban Islam yang pernah berhasil menyelenggarakan pendidikan tinggi kelas satu, mendorong riset, penemuan dan inovasi yang mengantarkan umat pada satu peradaban gemilang, dengan intelektual polymath dan berkepribadian islam yang tangguh..

Kegemilangan peradaban tersebut disebabkan karena Islam memandang ilmu dengan lensa akidah. Ilmu adalah mata air kehidupan. Untuk itu, Islam mengarahkan perhatian yang sangat serius dalam penyelenggaraannya. Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan primer. Daulah Khilafah memiliki seperangkat mekanisme agar kebutuhan akan pendidikan dapat dijangkau oleh seluruh warga daulah. Kemandirian ekonomi yang ditopang dengan sistem ekonomi yang mumpuni adalah salah satu kunci kesusksesan sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh Daulah Khilafah. Khilafah Islam akan mengadopsi sistem politik ekonomi yang akan sangat berkontribusi mewujudkan kemaslahatan umat. Salah satunya adalah dengan mengelola sumber daya alam yang melimpah sesuai dengan apa yang disyariatkan. Negara memproteksi adanya individu yang mengelola sumberdaya alam yang seharusnya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat.

“Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api.“ (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah).

Dijelaskan olehh Imam Asy Sayukani dalam Nayl al Authar halaman 1140. Maka, pengelolaan sumber daya alam tidak boleh diserahkan kepada swasta (corporate based management) tapi harus dikelola sepenuhnya oleh negara (state based management) dan hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam berbagai bentuk termasuk dalam pembiayaan penyelenggaraan pendidikan.

Berdasarkan tata kelola ini, negara mampu menyelenggarakan pendidikan gratis yang diperoleh dari Baitu Maal. Pos-pos Baitul Maal pun tak hanya melalui pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi untuk kesejahteraan rakyat, melainkan terdapat pos-pos keuangan daulah lainnya yaitu: (1) pos fai dan kharaj yang merupakan kepemilikan negara- seperti ghanimah, khumuus (seperlima harta rampasan perang), jizyah, dan dharibah; (2) pos kepemilikan umum seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan). Dengan pendanaan ini juga, daulah akan menyediakan sarana dan prasarana terbaik: seperti ruang kelas, observatorium, perpustakaan, laboratorium, asrama, kamar mandi, dan seluruh kebutuhan penyelenggaraan pendidikan lainnya. Disisi lain, daulah akan menyediakan tenaga pengajar yang berkualitas dengan imbalan yang memuaskan sebagaimana apa yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab yang menggaji tenaga pengajar sebesar 15 dinar per bulan. Bandingkan dengan gaji tenaga pengajar saat ini dengan berbagai syarat administrasinya yang memberatkan. Selain itu, negara juga mengambil kebijakan-kebijakan strategis yang menjamin agar selalu terdapat guru, dosen, perawat, dokter, insinyur, mujtahid, dan tenaga-tenaga lain yang keberadaannya wajib kifayah sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan masyarakat.

Tujuan pendidikan Islam adalah membangun kepribadian islami dengan cara menanamkan tsaqafah Islam berupa akidah, pemikiran, dan perilaku islami. Melalui mekanismenya, Daulah Islam berupaya mempersiapkan generasi muslim agar mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fikih, hadis, dan lain-lain) maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran, dan lain-lain). Output sistem pendidikan Islam dibentuk agar menjadi intelektual yang mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat, menjadi generasi terbaik yang mengantarkan Islam ke puncak peradaban.

Mengenai riset, daulah akan mendorong intelektual muslim untuk melakukan riset yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Riset tersebut akan didanai dan difasilitasi secara mandiri oleh daulah melalui pos-pos Baitul Maal yang bertujuan untuk mewujudkan riset yang mandiri dalam rangka menjadikan daulah sebagai negara terdepan dalam dunia riset. Gelombang inovasi dan kreativitas akan terjadi secara besar-besaran, bukan hanya karena adanya tuntutan akademik tapi juga tuntutan akidah sehingga kedudukan Islam menjadi tinggi hadapan kaum kuffar. Alhasil, rakyat benar-benar merasakan rahmat dari penyelenggaraan pendidikan tinggi daulah.

Hal ini sungguh berbeda dengan kondisi saat ini. Ilmu yang digambarkan sebagai pelita yang menerangi kegelapan, justru dijadikan sebagai faktor ekonomi yang sarat akan kepentingan para korporat. Bukannya sejahtera, rakyat justru kian diberondong berbagai masalah. Meski banyak ahli dengan berbagai riset yang dilakukan, pada faktanya pengabdian masyarakat yang diselenggarakan sejatinya hanya mengabdi kepada pemilik modal. Kita tak dapat berharap banyak pada sistem saat ini. Hanya Islam satu-satunya harapan yang akan memenjarakan kapitalisme ke museum peradaban dunia. Wallaahu alam bi showab

SHARE THIS PAGE!